Inflasi Asmara: Ketika Logika dan Sadar Diri Mengalahkan Segalanya
Sumber Gambar: Unsplash
Di sebuah teras rumah di suatu desa, waktu seolah berjalan lambat. Warsito (61) dan istrinya, Ratih (55), duduk berdampingan menikmati teh di sore hari dengan langit jingga dengan sedikit mendung. Pandangan mereka berdua tanpa sadar tertuju pada satu titik: jendela kamar anak laki-laki pertamanya yang kini telah berusia 26 tahun.
Dari balik kaca, terlihat pendar cahaya biru dari layar laptop. Sang anak tidak sedang bermain game atau menonton film. Layar itu dipenuhi dengan grafik keuangan, proyeksi tabungan, dan berkas pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum tengah malam. Di seberang jalan, sayup-sayup terdengar suara gelak tawa anak-anak kecil, cucu dari tetangga sebayanya yang sudah lebih dulu membina rumah tangga.
“Kapan ya kira-kira dia mau cari pasangan?” tanya Ratih pelan, Lebih seperti bergumam pada diri sendiri daripada bertanya pada suaminya.
Warsito hanya mengangkat bahu, menyeruput tehnya. “Zaman sekarang sudah beda, Bu. Kerjanya bagus, tabungannya juga sudah banyak. Mungkin dia masih sibuk sama pekerjaannya,” jawabnya. Namun, nada suaranya terdengar kurang yakin, seolah sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Bagi Warsito dan Ratih, usia pertengahan dua puluhan adalah masa yang tepat untuk memulai rumah tangga. Dulu, modal nekat dan restu orang tua sudah cukup untuk berangkat ke pelaminan. Tapi bagi putra sulung mereka, usia 26 tahun bukanlah waktu yang tepat untuk menikah, melainkan benteng pertahanan terakhir untuk bertahan hidup di tengah himpitan biaya, tuntutan karier, serta bayang-bayang ketidakpastian masa depan.
Setiap kali ada undangan pernikahan yang datang ke rumah, entah dari kolega Warsito atau teman sebaya anaknya, kartu undangan tersebut hanya akan dibahas sebentar, lalu diletakkan di meja. Menyisakan harapan kecil yang tak pernah benar-benar mereka ucapkan keras-keras.
Kota yang Kehilangan Pesta
Keheningan di teras rumah Warsito ternyata bukanlah anomali. Jika kita menggeser “kamera” beberapa kilometer dari rumah itu, kita akan menemukan fenomena yang sama di tempat-tempat yang seharusnya menjadi panggung perayaan cinta.
Di sebuah tempat usaha wedding organizer, kerangka tenda pernikahan tertata rapi di dalam gudang, lengkap dengan dekorasi yang tersimpan di dalam peti, hingga tumpukan kursi yang tampak berdebu. Vendor katering mondar-mandir dengan wajah cemas, berharap banyak yang menggunakan jasa mereka untuk memutar roda perekonomian dan membayar karyawan.
Pemilik usaha dekorasi pernikahan dan katering belakangan ini mengeluh. Jumlah pesanan tahunan mereka turun drastis. Bukan karena mereka kalah saing atau hasil kerjanya jelek, tapi karena jumlah orang yang menikah semakin sedikit. Tenda-tenda hajatan yang dulu sering berderet hingga menutup jalan, kini semakin jarang terlihat. Panggung sosial yang dulunya dianggap sebagai penanda kedewasaan, kini kian ditinggalkan karena perubahan prioritas dan pola pikir.
Lalu, mari kita lihat sejenak ke koridor instansi pemerintah. Di sebuah Kantor Urusan Agama (KUA), seorang penghulu duduk di balik meja. Ia memeriksa jadwal akad hari itu: hanya dua pasangan. Ia teringat masa lalu, di mana ruang tunggu kecil itu bisa penuh sesak oleh delapan pasangan dalam sehari, apalagi di akhir pekan. Kini, ia hanya bisa menatap jam dinding, merapikan berkas yang sama untuk sekian kalinya.
Tiga ruang berbeda – teras rumah, gudang dekorasi, hingga meja penghulu – kini terhubung oleh satu benang merah yang sama: pernikahan yang makin jarang terjadi, dan kesunyian yang menggantikannya.
Ketika Angka menggantikan Tradisi
Ini bukan sekedar perasaan atau kebetulan semata. Kalau kita tarik ke data nasional, kesunyian ini merupakan kurva panjang yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka yang mengejutkan: jumlah pernikahan di Indonesia anjlok dari 2,11 juta pada tahun 2014 menjadi hanya 1,47 juta pada tahun 2024. Artinya, terdapat lebih dari 600 ribu pernikahan yang “hilang” dalam satu dekade. Penurunan paling tajam terjadi justru terjadi pada akhir-akhir ini. Atalia Prarataya, Anggota Komisi VIII DPR RI, memaparkan bahwa dari tahun 2021 hingga 2024, angka pernikahan nasional turun sekitar 15,1 persen.
Kini kita mulai mengikuti jejak di negara-negara Asia Timur yang lebih dulu mengalami “krisis cinta”. Korea Selatan turun 40 persen, Jepang 21,1 persen, dan Tiongkok 20 persen.
Tapi terdapat satu plot twist yang ironis: tren penurunan angka pernikahan ini beriringan dengan naiknya angka perceraian. BPS mencatat angka perceraian yang melonjak hampir 438 ribu kasus di tahun 2025, dan mayoritasnya (78,3 persen) merupakan gugatan dari pihak istri. Pernikahan yang makin jarang, bersamaan dengan perpisahan yang makin sering. Dua kurva yang bergerak berlawanan, namun lahir dari keresahan yang sama.
Matematika Mengalahkan Romantisme
Dulu, mungkin kita sering mendengar pepatah “Banyak anak banyak rezeki,” atau “Nikah dulu, rezeki pasti ngikut.” Bagi Generasi Z dan milenial muda saat ini, pepatah tersebut terdengar seperti dongeng pengantar tidur yang berbahaya.
Nadia Yovani, sosiolog dari Universitas Indonesia, memiliki penjelasan yang menohok: keluarga dan pernikahan pada dasarnya merupakan institusi ekonomi terkecil dalam masyarakat. Ketika tekanan ekonomi meningkat dan kebutuhan terasa mahal, keputusan untuk menikah otomatis direm. Titik baliknya ada di tahun 2020. Sejak pandemi, tren pernikahan tidak pernah lagi kembali secara konsisten. Ini bukanlah fluktuasi musiman, melainkan masalah struktural.
Bagong Suyanto, Guru Besar Sosiologi UNAIR, menambahkan bahwa perempuan saat ini memiliki akses yang lebih luas ke pendidikan dan dunia kerja. Di sisi lain, jumlah laki-laki dengan kondisi ekonomi mapan semakin sedikit karena mencari pekerjaan yang stabil hari ini jauh lebih sulit dibandingkan satu generasi lalu.
Kelas menengah merupakan kelompok yang paling rentan. Sunyoto Usman dari UGM menyoroti bahwa bagi kelas menengah, tekanan biaya hidup, cicilan, hingga harga rumah yang tak masuk akal membuat pernikahan terasa seperti barang mewah. Fenomena ini melahirkan istilah waithood, yaitu masa tunggu di mana anak-anak muda menunda pernikahan sampai kondisi finansial benar-benar stabil.
Mereka bukan anti nikah. Mereka hanya sadar diri. Mengambil keputusan untuk menunda pernikahan hingga kondisi ekonomi mapan bukanlah bentuk pesimisme, melainkan wujud dari rasa tanggung jawab yang paling rasional. Mengutip riset dari Universitas Negeri Surabaya, ambisi karier dan persiapan finansial terbukti berkaitan erat dengan keputusan Gen Z untuk menunda pernikahan. Kini, logika ekonomi telah resmi mengalahkan tradisi.
“Marriage is Scary”; Narasi Ketakutan di Era Digital
Selain dompet yang menipis, terdapat salah satu faktor yang membuat anak muda mundur perlahan, yaitu trauma digital.
Algoritma media sosial seperti X (sebelumnya Twitter) atau TikTok seolah sedang berlomba-lomba menyuguhkan kisah tragis dalam rumah tangga. Paparan tanpa henti terhadap kasus KDRT, perselingkuhan, drama mertua, hingga perebutan harta gono-gini membentuk persepsi baru di kalangan muda.
Hingga akhirnya muncul narasi “Marriage is Scary” (Pernikahan itu Menakutkan). Frasa ini seketika memuncak dalam pencarian daring dan menjadi simbol kegelisahan bagi generasi muda. Bagi mereka, pernikahan bukan lagi tentang belahan jiwa, melainkan sebuah taruhan berisiko tinggi yang dapat menghancurkan kesehatan mental dan finansial kapan saja. Generasi orang tua mungkin tidak terlalu terpapar oleh “aib” rumah tangga orang lain, namun Gen Z melihat semuanya secara real-time dan jelas.
Akibatnya, pola relasi sosial semakin renggang. Kohabitasi (hidup bersama tanpa menikah), hubungan terbuka, atau komitmen alternatif lain mulai dilirik. Mereka mencari jalan pintas di tengah institusi pernikahan yang dianggap terlalu kaku dan berisiko, namun dengan tindakan yang tidak dibenarkan dalam undang-undang dan agama.
Negara Hadir dengan Ceramah, Anak Muda Butuh Solusi
Lantas, melihat warganya mulai “mogok” menikah, apa yang dilakukan negara?
Sayangnya, respons negara sejauh ini lebih banyak menggunakan bahasa moral dan agama, alih-alih menggunakan bahasa kebijakan ekonomi struktural. Kementerian Agama mendorong program “GAS Nikah”, menjadikan taaruf “Golek Garwo” sebagai agenda rutin, hingga mewanti-wanti bahaya “kumpul kebo” yang dapat merusak masa depan bangsa. Edukasi pranikah dan ketahanan keluarga digalakkan secara masif ke sekolah-sekolah dan madrasah.
Data dan riset sudah jelas menunjukkan bahwa anak muda menunda pernikahan karena tekanan biaya hidup, ketidakpastian kerja, stagnasi upah, hingga mahalnya properti. Mereka menunda pernikahan bukan karena kurang mengaji, kurang edukasi pranikah, atau melupakan nilai budaya bangsa.
Ketika negara merespons persoalan finansial dan struktural dengan program edukasi moral, rasanya seperti memberikan obat sakit kepala kepada orang yang justru sakit kakinya. Anak muda tidak butuh diingatkan tentang “bahaya pergaulan bebas”. Mereka hanya butuh upah yang layak, hunian terjangkau, serta lapangan pekerjaan yang stabil. Ketika negara memilih jalur yang lebih mudah, berbicara mengenai tradisi dan moral daripada membenahi struktur ekonomi, kepercayaan publik pun ikut dipertaruhkan.
Sebuah Kematangan Baru
Implikasi dari “Inflasi Asmara” ini tentu saja serius. Ekonom kependudukan memperingatkan tentang economic constraint yang dapat mempercepat penuaan struktur demografi di Indonesia. Jika total fertility rate terus turun dan pernikahan semakin jarang, bonus demografi yang selama ini dibanggakan dapat berujung pada krisis tenaga kerja dan membengkaknya beban jaminan sosial di masa depan.
Namun, di luar angka dan kebijakan yang rumit, mari kita kembali ke teras rumah Warsito dan Ratih.
Malam telah larut. Si seberang jalan, suara tawa cucu tetangga sudah lama sepi, digantikan oleh derik jangkrik dan lolongan anjing jalanan. Dari kamar anaknya, cahaya laptop masih menyala, memantul ke tembok. Grafik keuangan dan berkas kerja yang sama, hanya berganti angka.
Ratih menoleh sebentar ke arah kamar itu, lalu kembali menyeruput tehnya yang sudah dingin. Ia tak lagi bertanya “Kapan?”, seperti yang ia lakukan bertahun-tahun lalu. Ia mulai paham.
Penurunan angka pernikahan di Indonesia bukanlah tanda memudarnya kasih sayang atau hilangnya rasa hormat terhadap institusi keluarga. Sebaliknya, ini merupakan penanda dari sebuah kematangan baru. Generasi saat ini lebih memilih untuk “sadar diri”. Mereka memprioritaskan kesehatan mental, karier, dan stabilitas finansial sebelum memberanikan diri memikul tanggung jawab atas nyawa orang lain.
Pada akhirnya, Inflasi Asmara mengajarkan kita satu hal: menunda pernikahan demi membangun fondasi yang kokoh bukanlah sebuah kekalahan. Melainkan sebagai bentuk cinta dan keputusan paling logis atas tanggung jawab, di zaman yang menuntut kita untuk sadar diri sebelum menyerahkan segalanya.
Referensi
Adhani, A. F., Aripudin, A., UIN Sunan Gunung Djati Bandung, azizahf34@gmail.com, & cepirfan@yahoo.com. (2024). Perspektif Generasi Z di Platform X Terhadap Penurunan Angka Pernikahan di Indonesia. In Jurnal Komunikasi Islam (J-KIs): Vol. Vol.5 (Issue No.1) [Journal-article]. https://www.ejurnal.iaipd-nganjuk.ac.id/index.php/j-kis/
Ali, H. N. (2026, February 5). Angka Pernikahan di Indonesia Menurun Signifikan, Gen-Z Tunda Menikah karena Tekanan Ekonomi. indonesianmind.com. https://www.indonesianmind.com/2026/01/angka-pernikahan-di-indonesia-menurun.html#:~:text=INDONESIANMIND.COM%20%7C%20Padang%20%E2%80%94%20Angka%20pernikahan%20di%20Indonesia,Statistik%20%28BPS%29%20dan%20Sistem%20Informasi%20Manajemen%20Nikah%20%28SIMKAH%29.
Eka Purnama, B. (2026, January 23). Fenomena Penurunan Angka Pernikahan: Saat Logika Ekonomi Mengalahkan Tradisi. Media Indonesia. Retrieved July 23, 2026, from https://mediaindonesia.com/humaniora/853117/fenomena-penurunan-angka-pernikahan-saat-logika-ekonomi-mengalahkan-tradisi
Firdaus, N. A. K., & Rahmasari, D. (2025). The Relationship Between Career Ambition and the Decision to Postpone Marriage Among Generation Z. In Universitas Negeri Surabaya, Character : Jurnal Penelitian Psikologi (Vol. 12, Issue 02, pp. 847–858). https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/download/71554/52691
Hasibuan, L. S. (2025, September 16). Survei Terbaru Ungkap Angka Pernikahan di Indonesia Terus Menurun. CNBC Indonesia. Retrieved July 23, 2026, from https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20250916054656-33-667219/survei-terbaru-ungkap-angka-pernikahan-di-indonesia-terus-menurun
Hidayat, S. (2026, April 2). Angka Pernikahan Menurun, Atalia Praratya Ajak KUA Masifkan Edukasi bagi Anak Muda. E-Media DPR RI – Referensi Berita Parlemen Terkini. Retrieved July 25, 2026, from https://emedia.dpr.go.id/news/2026/04/02/angka-pernikahan-menurun-atalia-praratya-ajak-kua-masifkan-edukasi-bagi-anak-muda
Lutfi, F. L. F. (2025). Krisis kesiapan nikah Gen Z dalam narasi “Pernikahan Itu Menakutkan”: Relevansi Hukum Keluarga Islam di Era digital. Syakhshiyyah Jurnal Hukum Keluarga Islam, 5(1), 138–156. https://doi.org/10.32332/j585j338
Mardianti, D. L., & Wibowo, E. A. (2025, July 6). Menteri Agama Soroti Turunnya Minat Masyarakat terhadap Pernikahan. Tempo. https://www.tempo.co/politik/menteri-agama-soroti-turunnya-minat-masyarakat-terhadap-pernikahan-1915280
Munir, A., M., Mahmudi, M. H., & Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi’i Jember. (2025). Analisis terhadap kesiapan finansial sebelum menikah. In USRAH (Vol. 6, Issue 3, pp. 306–307).
P, A. R. F. (2026, January 22). Sosiolog: Faktor Ekonomi Jadi Pemicu Turunnya Angka Pernikahan di Indonesia. Kabarin.com. https://www.kabarin.com/baca/36750/sosiolog-faktor-ekonomi-jadi-pemicu-turunnya-angka-pernikahan-di-indonesia
Zakia, E. (2026, February 9). Angka Pernikahan di Indonesia Merosot Setiap Tahunnya. GoodStats. Retrieved July 23, 2026, from https://goodstats.id/article/mengintip-penurunan-angka-pernikahan-di-indonesia-EjB1t
